3T Tours
More than just a friend
in your trips

021 22655618
0877 8724 3411 (+WA)
0851 0550 0770 (+WA)

info@3ttoursindonesia.com

PT. Sinar Fiesta Indonesia
Jl. Danau Sunter Utara
Blok F20 #23 - RT.011 / 012
Sunter Agung - Jakarta - 14350

Show in Google Maps

Petra - Yordania

Sekilas INFORMASI dan SEJARAH Tempat & Kota Ziarah Wisata
(Dikumpulkan dan disusun dari berbagai sumber : National Geographic, Wikipedia, Wikimedia, TripAdvisor dan Google Search)


Petra (dari πέτρα petra, "batu" dalam bahasa Yunani; bahasa Arab: البتراء, al-Bitrā) adalah tempat wisata yang paling terkenal di Yordania dan merupakan sebuah situs arkeologikal di Ma'an, Yordania. Tempat ini terletak  di ketinggian kurang lebih 800 hingga 1.396 meter di atas permukaan laut, di sebuah lembah dari sebuah pegunungan Edom  (ada pendapat yang mengatakan bahwa di tempat inilah suku Edom-dari keturunan Esau pernah tinggal, karena Edom artinya merah seperti warna batu pegunungan ini), sebelah timur dari lembah Arabah, yang membentuk sayap timur Wadi Araba, lembah besar yang berawal dari Laut Mati sampai Teluk Aqaba. Kawasan tertinggi di areal ini disebut Gunung Harun (Jabal Harun) atau Gunung Hor atau El-Barra. Gunung Harun paling sering dikunjungi orang. Para pengunjung percaya, di puncak Jabal Harun inilah, Nabi Harun meninggal dan dimakamkan oleh Nabi Musa. Harun tiba di wilayah Yordania sekarang ketika mendampingi Nabi Musa membawa umatnya keluar dari Mesir dari kejaran Raja Fir'aun.
Pada abad ke-1 sebelum Masehi, Kerajaan Nabatea yang kaya dan kuat, menjangkau wilayah Damaskus di utara dan Laut Mati di selatan. Saat itu, Petra telah didiami sekitar 30 ribu penduduk. Pada masa itulah dibangun kuil agung. Tahun 100-an Masehi, Romawi pernah menguasai wilayah ini. Arsitektur di Petra pun terpengaruhi arsitektur Romawi. Pada 600 Masehi di Petra dibangun gereja. Abad ke-7 Masehi, Islam hadir, dan pada abad ke-14, sebuah masjid dibangun di sini dengan kubah berwarna putih yang terlihat dari berbagai area di sekitar Petra, makam Nabi Harun di Jabal Harun menjadi tempat keramat dari umat Islam.

 

Saat ini Petra yang terletak kurang lebih 262 km arah selatan dari ibu kota Yordania, Amman yang dapat ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam dengan berkendaraan mobil. Lokasi dari Petra, tersembunyi di antara bebatuan dan tebing bertingkat dengan pasokan air yang sangat baik, menjadikannya tempat ideal untuk sebuah kota mandiri. Tempat tersebut hanya bisa dikunjungi melalui celah sempit di pegunungan dari arah barat daya atau timur melalui sebuah canyon dengan panjang kurang lebih 1,5 kilometer dan kedalaman 200 meter, yang disebut dengan Siq, sebagai akses utama, yang merupakan celah sangat sempit, dengan lebar hanya 2 meter.

Ketersediaan air dan keamanan yang dimilikinya menjadikan Petra sebagai tempat perhentian yang layak di perlintasan jalur-jalur kafilah penghubung Mesir dengan Suriah dan Arab Selatan dengan Mediterania, yang menyalurkan barang-barang mewah (rempah-rempah dan sutra dari India, gading dari Afrika, mutiara dari Laut Merah, dan kemenyan dari Arab Selatan). Damar dari "pohon kemenyan" ( Boswellia ) sangat dihargai di seluruh dunia kuno khususnya sebagai persembahan dalam upacara-upacara keagamaan, dan juga sebagai obat.

Dunia usaha yang digerakkan oleh kafilah-kafilah dan pemungutan cukai menghasilkan keuntungan besar bagi orang-orang Nabatean. Dengan demikian kota ini menjadi sebuah pasar yang penting sejak abad ke-5 SM sampai abad ke-3 SM. Plinius yang Tua dan para penulis lainnya, menyatakan bahwa Petra adalah ibu kota dari Nabath, dan pusat dari perdagangan dengan mempergunakan karavan. Terdiri dari dinding batu dengan sistem pengairan yang baik, Petra tidak hanya memiliki banyak keuntungan sebagai benteng, tetapi ia juga mengontrol rute perdagangan utama yang melewati Gaza di Barat, ke Bushra dan Damaskus di Utara, ke Aqaba di Laut Merah, dan sepanjang gurun hingga ke Teluk Persia.

Petra yang merupakan ibu kota Kerajaan Nabatea, diperkirakan didirikan tahun 9 SM sampai dengan tahun ke-40 M oleh Raja Aretas IV sebagai kota yang sulit untuk ditembus musuh dan aman dari bencana alam seperti badai pasir karena pada awalnya dibangun untuk tujuan pertahanan, sebagai tempat pengungsian sementara oleh suku  nomaden  Nabataean Arab, yaitu suku Bedouins yang datang dari utara Arabia, salah satu rumpun bangsa Arab yang hidup sebelum masuknya bangsa Romawi. Petra merupakan simbol teknik dan perlindungan. Sesuai arti nama Petra, yang adalah “batu” merujuk pada bangunan kotanya yang terbuat dari batu-batu di Wadi Araba, mereka membangun kota itu sebagai kota berbenteng. Setiap bangunan di kota ini dibuat dengan cara diukir di dinding batu yang memiliki warna/i mengagumkan.  Ukuran bangunan pun beragam, ada yang tingginya 140 kaki dan lebar 90 kaki, dsb.. Suku Nabatea membangun Petra dengan sistem pengairan yang luar biasa rumit. Terdapat terowongan air dan bilik air yang menyalurkan air bersih ke kota, sehingga mencegah banjir mendadak. Mereka juga memiliki teknologi hidraulik untuk mengangkat air. Terdapat juga sebuah teater yang mampu menampung 4.000 orang. Letak yang strategis untuk mengembangkan usaha dan hidup, serta aman untuk melindungi diri dari orang asing itulah alasan suku Nabatea memutuskan untuk menetap di wilayah batu karang Petra. Untuk mempertahankan kemakmuran yang telah diraih, mereka memungut bea cukai dan pajak kepada para pedagang setempat atau dari luar yang masuk ke sana. Suku Nabatea akhirnya berhasil membuat kota internasional yang unik dan tak biasa. Namun belakangan, kota ini dipadati puluhan ribu warga sehingga berkembang menjadi kota perdagangan karena terletak di jalur distribusi barang antara Eropa dan Timur Tengah.

Sebenarnya, asal usul suku Nabatea tak diketahui pasti. Mereka dikenal sebagai suku pengembara yang berkelana ke berbagai penjuru dengan kawanan unta dan domba. Warga Petra awal adalah penyembah berhala. Dewa utama mereka adalah Dushara (Dzu as-Shara/Dusares), yang disembah dalam bentuk batu berwarna hitam dan berbentuk tak beraturan. Dushara disembah berdampingan dengan Allat, dewi Bangsa Arab kuno. Mereka sangat mahir dalam membuat tangki air bawah tanah untuk mengumpulkan air bersih yang bisa digunakan saat mereka bepergian jauh. Sehingga, di mana pun mereka berada, mereka bisa membuat galian untuk saluran air guna memenuhi kebutuhan mereka akan air bersih.

Di akhir abad ke-4 Sebelum Masehi, berkembangnya dunia perdagangan membuat suku Nabatea memberanikan diri mulai ikut dalam perdaganan dunia. Rute perdagangan dunia mulai tumbuh subur di bagian selatan Yordania dan selatan Laut Mati. Mereka lalu memanfaatkan posisi tempat tinggal mereka yang strategis itu sebagai salah satu rute perdagangan dunia. Suku Nabatea akhirnya bisa menjadi para saudagar yang sukses, dengan berdagang dupa, rempah-rempah, dan gading yang antara lain berasal dari Arab bagian selatan dan India timur.

Pada tahun 106 Masehi, Romawi mencaplok Petra, sehingga peran jalur perdagangannya melemah. Sekitar tahun 700 M, sistem hidraulik dan beberapa bangunan utamanya hancur menjadi puing. Setelah Perang Salib pada abad ke-12, situs ini tidak pernah diketemukan oleh dunia barat hingga 1812, ketika pengelana dari Swiss, Johann Ludwig Burckhardt menemukannya untuk pertama kalinya yang memasuki kota itu dengan menyamar sebagai seorang muslim. Legenda Petra pun meruak kembali pada zaman modern. Situs ini digambarkan seperti "sebuah kota mawar merah yang antik" dalam salah satu puisi yang menang dalam lomba Newdigate Prize, karya dari John William Burgon. Sedangkan UNESCO menyatakannya sebagai "salah satu peninggalan kultural yang paling penting dalam peradaban manusia" dan masuk sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 6 Desember 1985. Petra dipilih oleh majalah "Smithsonian" sebagai salah satu dari "28 tempat yang harus dikunjungi sebelum meninggal dunia".




Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/u5813289/public_html/modules/mod_jf_mobilemenu/helper.php on line 79