3T Tours
More than just a friend
in your trips

021 22655618
0877 8724 3411 (+WA)
0851 0550 0770 (+WA)

info@3ttoursindonesia.com

PT. Sinar Fiesta Indonesia
Jl. Danau Sunter Utara
Blok F20 #23 - RT.011 / 012
Sunter Agung - Jakarta - 14350

Show in Google Maps

Kompleks Gunung Bait Allah / The Temple Mount

(Kompleks Masjid Al Aqsa)

Sekilas INFORMASI dan SEJARAH Tempat & Kota Ziarah Wisata
(Dikumpulkan dan disusun dari berbagai sumber : National Geographic, Wikipedia, Wikimedia, TripAdvisor dan Google Search)


Gunung Bait Suci (bahasa Ibrani: Har HaBáyit, Beit HaMikdash) atau Gunung Bait Allah (the Temple Mount) adalah nama sebuah kompleks seluas 144.000 meter persegi yang berada di Kota Lama Yerusalem. Bagi umat Muslim disebut kompleks Masjid Al Aqsa arti harfiah: "masjid terjauh", juga disebut dengan Baitul Maqdis atau Bait Suci. Kompleks ini menjadi tempat yang disucikan oleh umat Islam, Yahudi, dan Kristen. Kompleks ini terdiri dari beberapa bangunan, beberapa di antaranya adalah Jami' Al Aqsa atau Masjid Al Qibli adalah masjid berkubah abu-abu yang menjadi bagian dari kompleks Masjid Al Aqsa sebelah selatan, dan  Dome of the Rock (Kubah Batu) yang kubahnya dilapisi emas, bangunan ini didirikan di atas sebuah batu yang dipercaya oleh umat Yahudi sebagai tempat Abraham mempersembahkan Ishak kepada Yahweh. Oleh umat Muslim disebut Masjid Shakhrah (yang artinya batu).

Menurut Alkitab, Raja Daud membeli sebidang tanah di Yerusalem dari salah satu suku Yebus, suku Kanaan untuk dibangun sebuah tempat ibadah di atasnya. Namun keinginan itu baru terwujud pada masa putra dan penerusnya, Salomo, yang kemudian membangun tempat ibadah yang dikenal dengan Bait Suci pertama, Bait Salomo pada tahun 957 SM dan dihancurkan Babilonia pada 586 SM. Bait Suci kedua dibangun pada tahun 516 SM dan dihancurkan oleh Kekaisaran Romawi pada tahun 70 M  dan kedua Bait Suci itu dipercaya didirikan di tempat yang sekarang disebut dengan kompleks Gunung Bait Allah / The Temple Mount / kompleks Masjid Al Aqsa.

Dalam sudut pandang umat Muslim, Nabi Muhammad diangkat ke Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra' Mi'raj dari Al Aqsa setelah sebelumnya dibawa dari Masjid Al Haram di Mekkah, dan kemudian naik ke surga. Dijelaskan bahwa Muhammad dalam perjalanan tersebut mengendarai Al-Buraq dan setibanya di sana ia shalat di Bukit Bait Suci. Setelah usai, malaikat Jibril membawanya naik ke surga, di mana ia bertemu dengan beberapa nabi lainnya, dan kemudian menerima perintah dari Allah yang menetapkan kewajiban bagi umat Islam agar menjalankan shalat lima waktu setiap harinya. Ia kemudian kembali ke Mekkah.

Sejarah penting Masjid Al Aqsa dalam Islam juga mendapatkan penekanan lebih lanjut, karena umat Islam ketika shalat pernah berkiblat ke arah Al Aqsa selama empat belas atau tujuh belas bulan setelah peristiwa hijrah mereka ke Madinah tahun 624.  Kemudian diturunkanlah ayat-ayat Al Qur'an yang memerintahkan umat Islam untuk menghadap ke arah Masjid Al Haram dalam salat mereka, setelah arah kiblat berpindah, maka Kab'ah di Mekkah telah menjadi lebih penting daripada tempat batu Ash Shakhrah di Bukit Bait Suci tersebut.
 


Masa Kekuasaan Persia, Hashmonayim dan Herodes :

Setelah Nebukadnezar II, Raja Babilonia, menghancurkan Bait Suci pertama pada 586 SM, Raja Koresh yang Agung memulai pembangunan Bait Suci kedua pada tahun 538 SM. Sekitar tahun 19 SM, Raja Herodes yang Agung membangun ulang dan memperlebar Bait Suci, melibatkan sampai 10.000 pekerja.

Pada tahun 66 M, umat Yahudi melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Romawi. Empat tahun kemudian, pasukan Romawi di bawah kepemimpinan Titus Flavius Vespasianus menyerang dan menghancurkan Yerusalem beserta Bait Suci kedua.


Masa Romawi :

Pada tahun 130 M, Kaisar Hadrianus menjanjikan untuk membangun ulang Yerusalem, tetapi umat Yahudi merasa dikhianati karena sang kaisar hendak membangun kota berdasarkan kepercayaan pagannya, juga hendak membangun kuil yang dipersembahkan bagi pemujaan Dewa Yupiter di bekas reruntuhan Bait Allah kedua. Ketegangan antara pemerintah Romawi dan umat Yahudi semakin memanas saat sang kaisar juga melarang perintah sunat yang dipandang sebagai sebentuk mutilasi bagi kaisar, seorang penganut Helenis taat. Hal ini berujung pada pemberontakan yang dipimpin Simon Bar Kokhba. Namun pemberontakan itu berhasil dihancurkan pihak Romawi pada tahun 135 M. Akibatnya, umat Yahudi diusir dari tanah Israel, dilarangnya penggunaan hukum Taurat dan penanggalan Yahudi, dan menghukum mati ahli Yahudi. Kaisar Hadrianus membangun ulang kota Yerusalem sebagai sebuah kota Romawi bernama Aelia Capitolina dan umat Yahudi dilarang memasukinya. Di sisi lain, agama Kristen mulai bangkit dan menyebar di tubuh Kekaisaran Romawi hingga pada akhirnya menjadi agama resmi negara. Kaisar Konstantinus I melakukan kristenisasi masyarakat Romawi dan mengunggulkannya atas pemujaan paganisme. Kuil Yupiter yang dibangun Kaisar Hadrianus di reruntuhan Bait Suci kedua dihancurkan segera setelah Konsili Nicea I atas perintah Konstantinus I.

Keponakan Konstantin, Kaisar Flavius Claudius Julianus memberikan izin kepada umat Yahudi kembali dan membangun ulang Bait Suci mereka pada tahun 363. Julianus sendiri memandang bahwa Tuhan umat Yahudi merupakan anggota yang sesuai untuk Dewa-Dewa Pantheon yang dia percaya, selain dia juga adalah penentang kuat Kristen. Sejarawan gereja menyatakan bahwa umat Yahudi mulai membersihkan puing-puing di Bukit Bait, tetapi gagal lantaran gempa bumi dan kemudian kemunculan api dari dalam bumi. Namun bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa terdapat bangunan gereja, biara, atau bangunan umum lain yang berdiri di atas Bukit Bait pada masa kekuasaan Romawi Timur.

Pada tahun 610, Kekaisaran Sasania Persia mengalahkan Romawi dan merebut tanah Israel.  Umat Yahudi diberi wewenang untuk mendirikan negara bawahan dan mulai membangun Bait Suci. Namun lima tahun kemudian, Romawi kembali mengambil alih tanah Israel dan menghancurkan Bait Suci yang belum selesai pembangunannya dan menjadikan tempat itu sebagai tempat pembuangan sampah.

Pada tahun 637, umat Islam mengambil alih kepemimpinan atas Yerusalem dari tangan Romawi Timur pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab. Kompleks reruntuhan Bait Suci, dikenal sebagai Masjid Al Aqsa atau Baitul Maqdis oleh umat Islam, ditemukan Umar dalam keadaan tidak terawat. Meski begitu, Umar kemudian menemukan Batu Fondasi atas bantuan Ka’b Al Ahbar, seorang Yahudi yang telah masuk Islam. Batu ini diyakini sebagai titik pijakan Nabi Muhammad naik ke langit dalam kepercayaan umat Islam dan tempat Abraham hendak mempersembahkan anaknya, Ishak, dalam kepercayaan umat Yahudi dan Kristen. Al Ahbar mengusulkan untuk membangun masjid di sebelah utara batu tersebut agar umat Islam dapat menghadap ke arah Ka’bah dan batu tersebut dalam satu garis lurus saat shalat. Namun Umar menolak gagasan itu dan membangun masjid di selatan batu. Ia secara berhati-hati menghindarkan agar batu Ash Shakhrah tidak terletak segaris lurus di antara masjid itu dan Ka'bah, sehingga umat Islam hanya akan menghadap ke arah Mekkah saja ketika mereka shalat. Yerusalem oleh banyak kalangan umat Islam dianggap sebagai tempat yang suci, sesuai penafsiran mereka atas ayat-ayat suci Al Qur'an dan berbagai hadist. Abdallah El Khatib berpendapat bahwa kira-kira terdapat tujuh puluh tempat di dalam Al Qur'an di mana Yerusalem disebutkan secara tersirat.

Pada masa Kekhalifahan Umayyah, mulai didirikan beberapa bangunan di tanah kompleks Masjid Al Aqsa. Pada tahun 691, didirikan sebuah bangunan segi delapan berkubah yang menaungi Batu Fondasi oleh Khalifah Abdul Malik. Bangunan itu yang kemudian dikenal dengan Kubah Shakhrah, secara harfiah bermakna kubah batu (Dome of the Rock yang kubahnya dilapisi emas).

Saat kemenangan umat Kristen pada Perang Salib Pertama pada tahun 1099, pengelolaan Masjid Aqsa lepas dari tangan umat Islam. Jami' Al Aqsa diubah menjadi istana dan dinamakan Templum Solomonis, sedangkan Kubah Shakhrah diubah menjadi gereja dan dinamakan Templum Domini. Masjid Aqsa menjadi salah satu lambang penting di Yerusalem dan gambar Kubah Batu tercetak dalam koin yang dikeluarkan oleh Kerajaan Kristen Yerusalem.

Masjid Aqsa dikembalikan fungsinya seperti semula setelah umat Islam berhasil mengambil alih kepemimpinan kompleks ini pada masa Shalahuddin Al Ayyubi. Semua jejak dan bekas peribadahan Kristen di Masjid Al Aqsa dihilangkan dan kompleks tersebut kembali kepada kegunaan asalnya. Kewenangan umat Islam terhadap Masjid Al Aqsa cenderung tanpa gangguan hingga lepasnya wilayahnya Palestina dari Utsmaniyyah.

Setelah Perang Enam Hari, pemerintah Israel mengambil alih kepemimpinan Kota Lama Yerusalem, termasuk di dalamnya Masjid Al Aqsa. Kepala Rabi dari Pasukan Pertahanan Israel, Shlomo Goren, memimpin pasukan melakukan perayaan keagamaan di Masjid Al Aqsa dan Tembok Barat dan mengeluarkan maklumat untuk menjadikan hari tersebut sebagai hari raya “Yom Yerushalayim” (Hari Yerusalem). Beberapa hari setelah itu, 200.000 umat Yahudi berbondong-bondong mendatangi Tembok Barat dan ini adalah ziarah massal pertama umat Yahudi ke kompleks ini sejak tahun 70 M. Awalnya pihak berwenang Muslim tidak menghalangi Goren ketika dia beribadah di Masjid Al Aqsa, hingga pada hari Tisha B’Av dia membawa lima puluh pengikutnya sembari membawa dan mengenalkan shofar (terompet Yahudi) dan tabut portable saat ibadah, membuat ini dipandang sebagai peringatan keras bagi Lembaga Wakaf Yerusalem yang menggiring kepada buruknya hubungan antara pemerintah Israel dan pihak berwenang Muslim.


Keadaan saat ini :


Kementerian Wakaf Yordania memegang kontrol atas Masjid Al Aqsa hingga Perang Enam Hari tahun 1967. Setelah memenangkan perang, Israel menyerahkan kekuasaan masjid dan Bukit Bait Suci kepada lembaga wakaf Islam yang mandiri dari pemerintahan Israel. Namun, Angkatan Pertahanan Israel diperbolehkan berpatroli dan melakukan pencarian di wilayah masjid. Setelah pembakaran tahun 1969, lembaga wakaf tersebut mempekerjakan arsitek, teknisi, dan pengrajin dalam sebuah komite untuk melakukan perawatan. Untuk mengimbangi berbagai kebijakan Israel dan semakin meningkatnya kehadiran pasukan keamanan Israel di sekitar lokasi ini sejak Intifada al-Aqsa, Gerakan Islam bekerjasama dengan lembaga wakaf telah berusaha untuk meningkatkan kendali Muslim di dalam lingkungan Masjid Al Aqsa. Beberapa kegiatannya termasuk memperbarui dan merenovasi kembali bangunan-bangunan yang terbengkalai.

Antara tahun 1992 sampai 1994, pemerintah Yordania melapisi kubah dari Kubah Shakhrah dengan 5.000 pelat emas. Mimbar Shalahuddin juga dipulihkan. Perbaikan ini diperintahkan Husain, Raja Yordania, dengan anggaran pribadi sebanyak $8 juta.

Saat ini, imam utama dan pengurus Masjid Al Aqsa adalah Muhammad Ahmad Hussein. Ia diangkat menjadi Mufti Besar Yerusalem pada tahun 2006 oleh Presiden Palestina Mahmud Abbas. Imam-imam lainnya termasuk Syaikh Yusuf Abu Sneina, Mufti Palestina sebelumnya Syaikh Ikrimah Sa'id Sabri, serta mantan Imam Al Aqsa Syaikh Muhammad Abu Shusha yang sekarang tinggal di Amman, Yordania.

Kepemilikan Masjid Al Aqsa merupakan salah satu isu dalam konflik Israel-Palestina. Israel mengklaim kekekuasaan atas masjid tersebut dan juga seluruh Kompleks Bait Allah/Bait Suci/Temple Mount, tetapi Palestina memegang perwalian secara tak resmi melalui lembaga wakaf. Selama negosiasi di Pertemuan Camp David 2000, Palestina meminta kepemilikan penuh masjid ini serta situs-situs suci Islam lainnya yang berada di Yerusalem Timur.

Pihak Israel dan Palestina masing-masing menyatakan sebagai pihak yang lebih berhak dalam mengelola Masjidil Aqsa, dan ini menjadi salah satu titik permasalahan utama Konflik Arab-Israel.  Untuk menjaga kompleks ini berada dalam status quo, pemerintah Israel menetapkan larangan untuk ibadah bagi umat non-Islam di tempat ini.


 

Sumber : National Geographic, Wikipedia dan Google Search - Papan keterangan dalam bahasa Ibrani dan Inggris di luar Bait Suci menampilkan larangan menurut Taurat untuk memasuki area ini.


Sementara semua warganegara Israel yang muslim diperbolehkan untuk masuk dan beribadah di Masjid Al Aqsa, Israel pada waktu-waktu tertentu menetapkan pembatasan ketat akses masuk ke masjid untuk orang Yahudi, Muslim Palestina yang tinggal di Tepi Barat atau Jalur Gaza, atau pembatasan berdasarkan usia untuk warga Palestina dan warganegara Israel keturunan Arab, seperti memberi izin masuk hanya untuk pria yang telah menikah dan setidaknya berusia 40 atau 50 tahun. Wanita Arab kadang-kadang juga dibatasi sehubungan dengan status perkawinan dan usia mereka. Alasan Israel untuk pembatasan tersebut adalah bahwa pria Palestina yang berusia tua dan telah menikah cenderung "tidak menyebabkan masalah", yaitu bahwa secara keamanan mereka lebih tidak beresiko.

Banyak rabbi, termasuk para ketua rabbi Israel sejak tahun 1967, telah memutuskan bahwa orang Yahudi tidak boleh berjalan di Bukit Bait Suci karena terdapat kemungkinan mereka menginjak Kodesh Hakodashim, yaitu lokasi yang dianggap tersuci oleh umat  Yahudi. Pembatasan dari pemerintah Israel hanya melarang dilakukannya doa Yahudi di Bukit Bait Suci, tetapi tetap mengizinkan orang Yahudi maupun non-Muslim lainnya untuk berkunjung pada berjam-jam tertentu selama hari-hari tertentu dalam seminggu. Beberapa rabbi dan para pemimpin Zionis telah mengajukan tuntutan agar orang-orang Yahudi diperbolehkan untuk berdoa di tempat itu pada hari-hari raya Yahudi. Meskipun Mahkamah Agung Israel telah mendukung hak berdoa perorangan (bukan secara berkelompok), namun dalam praktiknya polisi Israel melarang orang Yahudi untuk berdoa "secara terang-terangan dalam bentuk apapun juga di Bukit Bait Suci, meskipun bila hanya menggerak-gerakkan bibirnya saja ketika berdoa".

Untuk saat ini orang yang beragama Yahudi beribadah di tembok bagian barat Kompleks Temple Mount Bukit Moriah yang disebut kompleks Masjid Al Aqsa oleh Muslim, yang asalnya dibangun setelah perluasan Bait Suci kedua. Tembok ini dipandang suci karena ini adalah bagian yang tersisa dari tembok kuno yang merupakan bagian dari Bait Suci kedua. Tempat ini menjadi tempat berdoa dan saat ini menjadi tempat tersuci bagi umat Yahudi.

Tambahan keterangan :
1.    Intifada Kedua / Al Aqsa terjadi pada 28 September 2000, pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon mengunjungi Masjid Al Aqsa bersama dengan utusan Partai Likud dan sejumlah polisi anti huru-hara Israel. Kunjungan itu dipandang sebagai isyarat provokatif bagi rakyat Palestina yang kemudian berkumpul di tempat tersebut.

2.    Intifada Pertama (1987–1993)
adalah perlawanan rakyat Palestina terhadap pemerintah Israel di Palestina pada tanggal 9 Desember 1987. Pemberontakan dimulai di kemah pengungsi Jabalia dan dengan cepat menyebar ke seluruh Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Kekerasan merupakan ciri penting dari intifada, dengan eksekusi orang yang dituduh sebagai pendukung Israel. Diperkirakan 1.100 orang Palestina dibunuh oleh tentara Israel dan 164 orang Israel dibunuh oleh orang Palestina. Selain itu, diperkirakan 1.000 orang Palestina dibunuh oleh orang Palestina karena dituduh sebagai pendukung Israel. Pemberontakan ini baru diakhiri pada tahun 1993.


Sumber : National Geographic, Wikipedia dan Google Search


Warning: "continue" targeting switch is equivalent to "break". Did you mean to use "continue 2"? in /home/u5813289/public_html/modules/mod_jf_mobilemenu/helper.php on line 79